Makna 1 Suro, Tahun Baru Jawa

WEBLOG RW-IV PADANGSARI

Kita yang berada di Indonesia, saat ini paling tidak mengenal 4 macam tahun yang berbeda-beda, misalnya Tahun Masehi, Tahun Hijriah, Tahun Jawa, dan Tahun Imlek. Tahun Masehi didasarkan atas perputaran bumi mengitari matahari yang dikenal dengan Tahun Matahari (dan berkaitan dengan musim), sementara Tahun Hijriyah dan Tahun Jawa didasarkan pada perputaran bulan mengelilingi bumi dan tidak berkaitan dengan musim. Tahun yang berdasarkan perputaran matahari dan bulan memiliki perbedaan jumlah hari setiap tahunnya. Untuk Tahun Matahari setiap tahunnya berjumlah 365/366 hari, sementara untuk Tahun Bulan per-tahunnya memiliki 354 hari.

Tahun Masehi mengawali tahun barunya setiap tanggal 1 Januari sementara Tahun Hijriyah mengawali tahun barunya pada tanggal 1 Muharram dan Tahun Jawa pada tanggal 1 Suro. Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama dalam mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan nama bulan. Tahun Hijriyah menyebut bulan Muharram atau Asyuro, sementara Tahun Jawa menyebut…

View original post 1,317 more words

♣ Apa Dan Siapa Kita

inspiratif..

Hasan Husen Assagaf

Apa Dan Siapa Kita

Kota madinah pernah dihebohkan dengan seorang pemuda yang solih, baik dan penampilannya dalam agama sangat mena’jubkan. Berita ini tersebar sampai ke telinga Sayyidina Umar ra. Lalu beliau menghampiri masyarakat yang sedang asyik menceritakan kebaikan pemuda tadi, lalu berkata: ”Dari mana kalian tahu bahwa orang itu baik?”. Mereka menjelaskan bahwa setiap hari pemuda tsb selalu giat dalam urusan agama dan tampil di muka dalam merefleksikan segala yang berurusan dengan ibadah. Sayyidina Umar bertanya lagi: ”Lantas nafkahnya dari mana?”. Mereka menjawab: ”Ia hidup dari saudara lakinya yang bekerja di pasar”. Lalu Umar ra berkata: ”Ketahuilah bahwa saudara lakinya yang bekerja di pasar itu lebih baik dan afdhal darinya”

Kisahnya, waktu saya dalam perjalanan dari Jakarta ke Riyadh naik pesawat yang harus transit di Abu Dhabi satu jam menurunkan dan mengambil penumpang. Karena keberangkatan dari jakarta ditunda 1 jam saya menunggu di lobi ruang tunggu bandara Cengkareng. Di depan…

View original post 250 more words

Akar Pun Jadi

Rubrik Bahasa

Sori Siregar*, KOMPAS, 22 Agu 2015

Dua peribahasa Indonesia hampir bersamaan bunyinya. Yang pertama ”tiada rotan, akar pun jadi” yang bermakna, jika tak ada yang baik, yang jelek pun berguna. Yang kedua, ”tiada rotan, akar pun berguna” yang berarti bahwa apabila tak ada yang lebih baik, yang kurang baik pun boleh. Saya membaca ini dalam Kamus 5000 Peribahasa Indonesia yang ditulis Heroe Kasida Brataatmadja keluaran Penerbit Kanisius, Yogyakarta (1985).

Perbedaan kedua peribahasa tersebut hanyalah pada kata jadi dan berguna. Maknanya sebenarnya sama. Dari peribahasa yang menggunakan kata rotan, tampaknya kedua peribahasa inilah yang paling populer. Karena populer, rasanya tak mungkin adaorang yang salah menuliskannya.

View original post 421 more words